KAMISTIS #3 : YNWA
to write a horror story is beyond my supposition since I’m a faint hearted girl, but i found it quite fun to join this weekly project with satria (satriamaulana.tumblr.com), adit (adiitoo.tumblr.com) and baje (badzlinaanindyka.tumblr.com). Naya and Ibel couldn’t join this week. So here we go..
———
Halo, namaku Nanette dan kondisi yang paling aku benci adalah sendirian.
Aku masih ingat ketika aku masih kecil, aku sering ditinggal oleh orang tuaku yang sibuk mengumpulkan pundi-pundi uang dan menyuap ketidakhadiran mereka dengan memberikan aku mainan, seolah tumpukan boneka-boneka dengan baju manis berenda di lemariku bisa menggantikan kehadiran dan senyum mereka di sisiku.
Aku tumbuh menjadi anak yang manja dan gampang menangis, tidak ada teman yang mau bermain denganku, karena aku selalu memaksa mereka untuk bermain dengan mainanku, alih-alih ingin diperhatikan yang aku dapatkan malah pengasingan. Kesendirianku terus berlanjut hingga usiaku menginjak remaja.
Suatu hari sepulang sekolah, mobil papa terparkir di luar, tumben pikirku. Ketika aku melangkah masuk ke dalam rumah, mama menghampiriku dan memanggilku dengan nama kecilku, “Nancy, zullen we verhuizen”.
Ah, kami akan pindah? Ke negeri seberang lautan? Menarik, pikirku, aku akan menemukan banyak teman baru disana, lalu papa mama pasti akan sering memperhatikanku dan mengajakku ke tempat baru. Aku dengar disana negeri yang indah.
“okee, mama”, kataku pasti.
——
Ternyata hari-hari bosanku terus berlanjut disini. Setiap menjelang pagi, aku hanya bisa termenung dengan berpangku tangan di jendela sekolah, memandangi jalanan kosong yang sebentar lagi akan dipadati kendaraan-kendaraan yang terus bertransformasi, memandangi halaman sekolah yang sebentar lagi dipenuhi oleh siswa-siswi yang asyik bersenda gurau. Rutinitas membosanku ini membuatku hafal siapa-siapa saja yang akan datang sebentar lagi, Sara, si nona besar, yang selalu diantarkan oleh supir pribadinya atau Bobby si biang onar, yang selalu datang ke sekolah dengan baju yang sudah penuh keringat. Aku pernah dengar sih katanya orang tua Bobby tidak cukup mampu, menyekolahkan dia di sekolah yang sekarang berbasis internasional ini saja sudah kesulitan, apalagi memberinya ongkos. Ada juga Ahmad, Nita, Tami, dan anak-anak kelas sebelah, yang selalu terlibat percakapan seru setiap harinya. Aku ingin sekali berteman dengan mereka, tapi tidak mungkin :(
Kebiasaan lainku ketika jam pulang sekolah, aku berjalan-jalan ke kelas-kelas lain, melewati aula yang penuh dengan teman-temanku disini, tapi aku tidak terlalu suka bergaul dengan mereka, mereka aneh menurutku. Mereka sering mengajak aku bermain tapi selalu aku tolak. Lalu aku turun ke kelas-kelas di lantai bawah, berjalan terus ke koridor, berpapasan dengan satu dua temanku yang sedang menganggu siswa-siswi yang asyik berpacaran di tangga, ada juga yang sedang bercanda di kelas. Tapi aku paling ga pernah naik ke lantai tiga gedung baru, karena ya tidak ada apa-apa, hanya mesjid.
Hari ini aku iseng menghampiri siswa yang kemarin bertemu denganku ketika dia mengerjakan proyek karya ilmiahnya, ketika itu aku sedang berjalan-jalan ke arah laboratorium. Nama siswa itu Adi, nama yang cukup standar ya? Tidak seperti namaku, mungkin kesombonganku ini salah satu faktor yang membuat aku tidak memiliki teman.
“Seriusan, No, gw ngeliat si Nancy kemaren malem, awalnya gw biasa aja sampe tiba2 rasanya ruangan makin dingin dan kaya ada yang melayang mendekat ke arah gw, gw langsung ngacir pulang, sumpah gw takut banget”
Ah, Adi, padahal aku hanya ingin mengobrol dan penasaran dengn apa yang kamu kerjakan, aku semakin mendekat ke arah Adi dan temannya, Nano.
“Siga kieu yeuh hawana, tiris-tiris kieu , Adi menambahkan dalam bahasa sunda yang artinya “kaya gini nih hawanya, dingin kaya gini”, aku sudah cukup ahli menerjemahkan bahasa daerah yang sering digunakan di sekolah ini.
“Edan, bulu kuduk urang..ngabrigidig…Udah ah hayu balik.. Sieun urang….”, kata Nono ketika saya akan duduk di sebelahnya.
Lagi-lagi mereka menghindar. Kemarin aku menghampiri Siska dan Todi yang lagi berduaan di malam hari dan mereka kabur begitu aku datang, atau juga anak-anak sekolah sebelah yang sedang berlatih drama, langsung berlarian ketika aku menuju mereka. Sudah beratus-ratus kali mereka menghindariku. Mereka tau aku tapi selalu ketakutan bertemu denganku. Sulitnya mencari teman.
Oh ya, aku belum cerita ya? Beberapa bulan setibanya aku dan papa mama di negeri yang bernama Indonesia ini, rumah kami dibakar oleh pemuda-pemuda kampung yang sedang memperjuangkan kemerdekaan negara ini, jasad papa mamaku pun habis dilahap api maut itu. Papaku ternyata terlibat bisnis opium gelap, harta kami semua dijarah oleh penduduk sini sebelum mereka membakar rumahku. Aku yang malu karena cibiran teman-temanku pun nekat menggantungkan diri sepulang sekolah. Tempat kejadiannya tepat disini, di kelas ini, tempat aku memperhatikan kalian berlalu lalang setiap pagi.
——
Namaku Nanette, tapi seluruh siswa-siswi di dua sekolah yang menyatu ini mengenalku dengan nama Nancy, entah darimana mereka mengetahui nama kecilku ini. Tuh kan, ga di dunia, ga pindah alam, walalupun aku sudah terkenal tapi kenapa aku harus selalu sendiri?
7 notes blog comments powered by Disqus
-
ardfsaa liked this
-
badzlinaanindyka said:
oh-my-god. cerita nancy (lagi) :( dia kayaknya masih suka nongkrong di 3 ipa atas loh ka, kayaknya pa yoyo sering liat :(
-
raisafauzianahasanah reblogged this from astie
-
vietnanti liked this
-
annisaadejanira liked this
-
astie posted this
button

