22 notes
nice article from xmstbkt:
Golden rules for finding your life partner by Dov Heller, M.A.
When it comes to making the decision about choosing a life partner, no one wants to make a mistake. Yet, with a divorce rate of close to 50%, it appears that many are making serious mistakes in their approach to finding Mr./Miss. Right!
If you ask most couples who are engaged why they’re getting married, they’ll say: “We’re in love”; I believe this is the ..1 mistake people make when they date. Choosing a life partner should never be based on love. Though this may sound “not politically correct”, there’s a profound truth here.
Love is not the basis for getting married. Rather, love is the result of a good marriage. When the other ingredients are right, then the love will come. Let me say it again: “You can’t build a lifetime relationship on love alone”; You need a lot more!!!
Here are five questions you must ask yourself if you’re serious about finding and keeping a life partner.
Aku kadang-kadang ingin menjadi penghuni planet mars
dimana logika menjadi pemenang ketika melawan hati
terkadang lelah air mata ini terurai ketika hati mendikte otak
.
Aku ingin menjadi seperti mereka
yang dapat tertawa bebas mengomentari pemain-pemain bola jagoan mereka
tidak seperti kami, para venus, yang berkecenderungan untuk membicarakan apa yang nampak di sekeliling kami
yang dapat melakukan olahraga-olahraga dan petualangan yang menggairahkan hidup disaat kami dilarang ini itu
.
Andai aku mereka
aku tidak perlu repot menghabiskan dua jam waktuku untuk memadu-padankan pakaian dan aksesorinya lalu bersolek untuk menghadiri 30 menit acara pernikahan
aku tidak perlu mengeluarkan biaya besar untuk dapat memadu-padankan busana dengan sepatu, tas dan kerudungku
aku tidak perlu menggembol tas berisi tabir surya, sisir, cermin, alat rias ini itu setiap harinya
aku tidak perlu menggunakan mukena berbau busuk ketika harus sembahyang di pusat perbelanjaan umum
.
andai saja.
dan ini cuma pengandaian semua
karena aku tetap bersyukur dilahirkan sebagai seorang wanita
God knows what’s the best for me.
Halo,
Selamat (tengah) malam.
Mari kita berbincang tentang sesuatu yang tidak mungkin anda tidak sering mendengar atau menonton film televisi di saluran lokal yang bertema bad-ending roman picisan semacam ini:
“A dan B yang sudah lama berpacaran (anggap 8 tahun) dan harus mengakhiri hubungan mereka karena A terlibat perselingkuhan dengan C yang hampir selalu ada untuk A, lalu melupakan B akibat jarak dan waktu yang memisahkan A dan B.”
“Kisah D dan E yang sifatnya bertolak belakang dan memaksakan untuk memadu kasih dan pada akhirnya tetap bercerai juga karena pertengkaran yang terus menerus terjadi dan D yang mulai bermain api dengan F”
lalu
“G yang memiliki sifat cenderung santai yang asyik bergaul dengan teman sepermainannya sehingga H yang bersifat perasa merasa dilupakan dan dua-duanya memiliki watak keras, tidak ada yang mau mengalah. G juga mulai dekat dan merasa lebih cocok dengan temannya, I. Beberapa bulan kemudian(bahkan beberapa hari kalau di FTV lebay itu) hubungan mereka pun kandas.”
atau juga
“J dan K yang mula hubungannya berjalan baik-baik saja, lalu ada L yang menggoda K, K terbawa ke dalam permainan L, hubungan J-K diujung tanduk dan.. wassalam.”
dan masih banyak lagi kisah cinta segi empat, segi lima sampai segi tidak terbatas.. dll.. dll..
Apabila kita menempatkan B, C, E, F, H, I, J, L sebagai wanita dan A, D, G, K bergender pria, atau bisa juga sebaliknya. Anda jadi mengerti kan ke mana arah pembicaraan kita?
Ya, inilah satu hal yang tidak bisa saya tolerir dan menjadi ketakutan terbesar saya: ketidaksetiaan, kehilangan kendali diri, bibit-bibit perselingkuhan.
Sejauh ini, lebih banyak wanita lah yang menjadi penyebab berakhirnya suatu hubungan. Saya sangat percaya wanita adalah makhluk yang haus akan kasih sayang, seperi quote berikut “One can find women who have never had one love affair, but it is rare indeed to find any who have had only one”. Tapi bukan berarti kebahagiaan C (kita ambil contoh dari kasus di atas) bisa didapat dari menjadi penganggu di antara hubungan A dan B, dan saya juga sangat percaya pria A tersebut juga salah, karena mencoba bermain api. B juga mungkin salah karena sifatnya yang membuat A kesal. Tapi yang saya tekankan disini, mengapa C harus menyalakan api dan mengajak A untuk bermain bersamanya?? padahal C tau A sudah memiliki B. Tidakkah A dan C memikirkan B. atau cinta itu memang buta, tidak peduli dengan rasa humanis. But, there’s so many other fish in the sea, so why mess with one that’s already been caught? Ini yang selalu menjadi pertanyaan saya..
Sejenak, mari bersama-sama kita merenungkan, dengan tidak menutup diri pada suatu kemungkinan bernama “jodoh”, saya selalu berharap agar semua pasangan yang ada di muka bumi ini bisa saling mengerti dan menjaga hubungan mereka. Bila akhirnya harus berakhir juga diselesaikan secara kekeluargaan dan tetap menjadi teman di kemudian hari.
Pikiran ideal, huh? Tapi mengapa tidak, bila kita bisa saling memahami sifat dasar pria dan wanita. Ambil contoh, ketika wanita sedang stres, seluruh masalahnya bercampur aduk dan kebanyakan dari mereka membutuhkan wadah untuk menampung cerita serta keluh kesahnya, sedangkan ketika pria stres mereka cenderung menyimpannya sendiri. Inilah yang menyebabkan pertengkaran, karena wanita merasa pria tidak membutuhkannya, dan pria yang saat itu sedang stress menjadi emosi akibat ulah wanita. Padahal wanita hanya butuh dukungan dan pemahaman dari pria ketika sedang bermasalah dan pria juga sebenarnya hanya membutuhkan solusi terlebih dahulu baru empati.
Moment-moment juga terkadang menjadi salah satu penyebab pertengkaran, ketika wanita mengingatnya dan pria tidak. Lalu pria terbiasa menyampaikan pikirannya dengan lugas yang menimbulkan rasa sakit hati wanita, sedangkan wanita ingin pria mengetahui keinginannya tanpa dia harus memberitahu.
Hal-hal seperti inilah yang seharusnya bisa saling dimengerti kedua belah pihak karena fondasi hubungan menurut saya adalah pengertian, dan tentu saja kepercayaan.
Sekian.
Wassalamu’alaikum Wr. Wb.
who will hold my hand when we cross the street.
who will kiss me on my nose and on my forehead.
who will bake cookies and sit on the counter eating cookie dough with me.
who will build forts with me in my living room when it’s raining out.
who will not mind if I sing along to the radio while I drive and maybe join in.
who will sit with me by the river in silence and not think it’s awkward.
who will help me concoct brilliant and elaborate plans to take over the world.
who will love me when I’m sick, when I’m grumpy and when I am sad.
I really hope that is not too much to ask.
buttonAbout six years ago, I used to be a very narrow-minded person; I didn’t open myself to various options life offered me. If I wanted A, then I’ve...
Yang kemarin cuman liat demo-demo-an dari tv yang notabene-nya milik dua *ehem* partai besar, dan lebih sering menjual apa yang hanya perlu dijual. Mungkin bisa...