value and state of happiness
Tersebutlah kita, manusia normal, yang sering terpercik api cemburu dengan yang kita anggap kebahagiaan; kesuksesan; keberuntungan yang didapatkan oleh kawan kita.
Wajar dan manusiawi.
Tapi mungkin kecemburuan itu hanyalah persepsi, yang lahir dari ego manusia semata, bukan dari pikiran. Persepsi manusia pulalah yang menciptakan segregasi tatanan kehidupan sosial dan tingkat kebahagiaan, bahwa menjadi seperti si A atau memiliki seperti kepunyaan si B otomatis akan menjadikan kita bahagia.
Tingkat kebahagiaan setiap orang berbeda. Rasa bahagia itu nisbi. Seperti ketika kita melihat seorang pemulung atau petani dan merasa sedih karena beratnya kehidupan mereka. Tapi ‘beratnya kehidupan’ adalah persepsi yang kita ciptakan terhadapnya, padahal belum tentu mereka tidak bahagia.
Tidak melulu harta menjadikan hidup manusia bahagia. Ada yang namanya kepuasan dalam lingkaran kebahagiaan. Seperti seseorang yang saya kenal dekat yang memilih puas atas eksistensinya serta kualitas ilmu yang beliau sebarkan dibanding kuantitas harta yang dia peroleh. Dan beliau bahagia! Sama sekali tidak ingin seperti (beberapa) rekan profesinya yang bergelimang harta, tapi kualitas pekerjaan dan penyebaran ilmunya tidak pernah dipedulikan.
Nilai kehidupan yang terabsorpsi dari lingkungan kamu dibesarkan juga menjadi salah satu parameter kebahagiaan. Keluarga yang merasakan jatuh bangunnya kehidupan akan menanamkan nilai kerja keras di kepala anak-anaknya sehingga dalam proses pendewasaan anak tersebut yakin hanya dengan bekerja keraslah kebahagiaan dirinya akan diperoleh; nilai agama untuk keluarga yang peduli dengan adanya kehidupan akhirat; nilai disiplin; nilai kejujuran; nilai kepuasan pribadi; nilai norma dan etika; nilai kebanggaan menjadi si nomor satu; nilai-nilai lainnya. Nilai-nilai dari keluarga inilah yang kita bawa untuk hidup bermasyarakat. Tidak ada nilai yang buruk pun salah karena setiap keluarga pasti menanamkan nilai yang baik dan ingin berbahagia. Tinggal bagaimana pembawaan kita terhadap nilai tersebut, tidak perlu dibandingkan dan bagaimana mengasimilasikan nilai masing-masing untuk keluarga yang nantinya kamu bentuk.
Salah satu nilai yang ditanamkan keluarga saya adalah kebahagiaan didapat bukan hanya dari ‘mengumpulkan apa’ tapi dari ’apa yang bisa dilakukan untuk didapat orang dan bagaimana cara menikmati hidup’.
Sekali lagi, persepsi adalah ego, persepsikan kamu ingin menjadi seperti apa dengan nilai apa yang kamu punya untuk merasa bahagia!
Selamat malam dan selamat berbahagia sebelum beraktivitas kembali besok.
Don’t hate monday and be happy!
PS: terima kasih untuk bos dan kawan dekat atas diskusi-diskusinya
6 notes

button
